Disiplin Kelas dan pembelajaran yang efektif


A.    Hakikat Disiplin Kelas
Disiplin adalah kesadaran untuk melakukan sesuatu pekerjaan dengan tertib dan teratur sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku dengan penuh tanggung jawab tanpa paksaan dari siapapun, Asy Mas’udi (2000). Disiplin merupakan atau secara umum yang berarti ketaatan terhadap aturan, baik aturan untuk umum maupun kelompok tertentu, dan bahkan aturan yang dibuat untuk diri sendiri.
Sedangkan pengertian disiplin kelas menurut para pakar yaitu Turney dan Cairns (1980) dalam buku Anitah (2018: 11.6) adalah 1) disiplin diartikan tingkat keteraturan yang terdapat pada satu kelompok, dan 2) disiplin kelas diartikan juga sebagai teknik yang digunakan oleh guru untuk membangun atau memelihara keteraturan di dalam kelas, dan 3) beberapa pakar menyamakan kata disiplin dengan hukuman, dengan makna lain menggunakan kata disiplin dalam kalimat, contohnya “disiplinkan anak itu” yang artinya hukumlah anak itu.
Menurut Suharsimi Arikunto (dalam Chumdari dan Sutini 1996: 55) menyatakan bahwa disiplin kelas adalah keadaan tertib dimana guru dan murid-murid yng tergabung dalam suatu kelas tunduk kepada peraturan-peraturan yang telah ditetapkan dengan senang hati. Menurut Dirjen PUOD dan Dirjen Dikdasmen (dalam Muliani Aziz, 2012) mengartikan bahwa disiplin kelas adalah keadaan tertib dalam suatu kelas yang didalamnya tergabung guru dan siswa taat kepada tata tertib yang telah ditetapkan.
Maka dapat disimpulkan bahwa disiplin kelas merupakan keteraturan yang terdapat di dalam kelas serta pengendalian diri seseorang untuk bersikap patuh terhadap bentuk-bentuk aturan yang telah ditetapkan dalam kelas agar tercapai tujuan yang diinginkan.

B.     Strategi Penanaman dan Penanganan Disiplin Kelas
Beberapa pandangan terhadap penanaman dan penanganan disiplin kelas sebagai berikut:
1.      Pandangan yang menyatakan bahwa guru harus berusaha agar siswa mengerjakan apa yang diinginkan oleh guru atau pandangan ini lebih berfokus pada kepentingan guru (teacher centered).
2.      Pandangan yang lebih terfokus pada kepentingan siswa, bukan kepentingan guru. Siswa hendaknya diberi kesempatan untuk ikut bertanggung jawab atas disiplin kelas dan guru tidak hanya mendiktekan apa yang harus dikerjakan siswa, tapi juga memberi kesempatan kepada siswa memilih dan mengambil keputusan.
3.      Pandangan yang berfokus pada kebutuhan siswa. Pandangan ini senada dengan dengan pandangan yang diatas dimana siswa diberi peluang untuk mengambil keputusan sehingga merasa dihargai dan akhirnya bermuara pada konsep diri yang lebih positif.
4.      Pandangan humanistik, adalah pandangan ini juga sejalan dengan pandangan 2 dan 3 yaitu pandangan yang menekankan kemanusiaan. Perlu adanya komunikasi yang terbuka dan jujur antara orang tua dan anak-anak atau antara guru dan siswa. Sehingga dapat mengetahui apa yang disuka anak dan yang tidak disukai anak.
5.      Pandangan behaviorism, berpendapat bahwa perilaku dapat dipelajari dan dikontrol. Dalam menegakkan disiplin hukuman dan penguatan merupakan dua hal yang dianjurkan.
Beberapa strategi penanaman disiplin kelas adalah sebagai berikut:
1.      Modelkan tata tertib yang sudah ditetapkan oleh sekolah. Guru mencontohkan atau memperlihatkan kepada siswa secara langsung seperti perilaku, keterampilan dan sikap yang dianjurkan. Sama-sama kita tau bahwa anak-anak SD lebih patuh kepada gurunya dibanding orang tuanya. Oleh Karena itu guru perlu memodelkan disiplin tersebut. Contoh: jika ingin anak-anak tidak terlambat, maka guru harus datang tepat waktu.
2.      Mengadakan pertemuan kelas secara berkala, terutama jika ada aturan yang perlu ditinjau kembali. Pertemuan kelas dapat berfungsi sebagai tempat berbagi pengalaman antar siswa dan guru, tempat mengambil keputusan, membuat rencana dan tempat untuk melakukan refleksi.
3.      Menerapkan aturan secara fleksibel atau luwes sehingga siswa tidak merasa tertekan.
4.      Menyesuaikan penerapan aturan dengan tingkat perkembangan anak. Contohnya siswa kelas rendah mungkin masih perlu diperiksa kebersihan kuku dan pakaiannya, berbeda dengan siswa kelas tinggi yang mungkin tidak perlu lagi dilakukan.
5.      Melinatkan siswa dalam membuat aturan kelas.
Ada beberapa strategi dalam penanganan disiplin kelas adalah sebagai berikut:
1.      Menangani gangguan ringan, dimana gangguan ringan yang tidak sampai mengganggu kelas secara keseluruhan. Dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a.       Mengabaikan, adalah gangguan kecil dan ringan yang dianggap tidak akan mempengaruhi yang lain dapat diabaikan saja. Contoh seorang siswa masih sibuk mencari buku catatan.
b.      Menatap agak lama, cara lain yang digunakan untuk mengatasi gangguan ringan adalah dengan menatap siswa yang membuat gangguan.
c.       Menggunakan tanda nonverbal, berupa gerakan tubuh seperti mengangkat tangan, menggeleng atau menaruh tangan di atas bibir mengisyaratkan untuk diam.
d.      Mendekati, gerak mendekati yang dilakukan guru akan menyebabkan siswa melakukan pelanggaran sadar bahwa perbuatannya sudah diketahui.
e.       Memanggil nama, yaitu dengan memanggil nama siswa yang sedang melakukan pelanggaran kecil dapat membantu memulihkan disiplin kelas asal dilakukan secara bijak.
f.       Mengabaikan secara sengaja, ini dapat diterapkan pada anak-anak yang suka mencari perhatian.
2.      Menangani gangguan berat, adalah pelanggaran yang dilakukan siswa yang dapat mempengaruhi siswa lain atau mengganggu jalannya pelajaran.
a.       Memberi hukuman
b.      Melibatkan orang tua, guru terlebih dahulu membuat laporan secara teratur kepada orang tua tentang kemajuan anaknya.
3.      Menangani perilaku agresif, adalah perilaku menyerang yang ditunjukkan oleh siswa di dalam kelas. Misalnya ada siswa yang berteriak dan menyakiti temannya atau bahkan menyerang guru. Beberapa cara untuk menangani perilaku agresif yaitu:
a.       Mengubah atau menukar teman duduk
b.      Jangan terjebak dalam konfrontasi atau perselisihan yang tidak perlu
c.       Jangan melayani siswa yang agresif ketika hati sedang panas
d.      Menghindari diri dari mengucapkan kata-kata yang kasar atau yang bersifat menghina.
e.       Konsultasi dengan pihak lain
C.     Perencanaan pembelajaran yang efektif
Proses pembelajaran pada hakikatnya merupakan suatu proses yang ditata dan diatur sedemikian rupa menurut langkah-langkah tertentu agar dalam pelaksanaannya dapat mencapai hasil yang diharapkan dan kompetensi dasar dapat tercapai secara efektif.
Perencanaan pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu rangkaian yang saling berhubungan dan saling menunjang antara berbagai unsur atau komponen yang ada didalam pembelajaran dan pengertian lain yaitu proses mengatur, mengkoordinasikan dan menetapkan unsur-unsur atau komponen-komponen pembelajaran.
Adapun prinsip-prinsip perencanaan pembelajaran sebagai berikut:
1.      Perencanaan pembelajaran harus berdasarkan kondisi siswa.
2.      Perencanaan pembelajaran harus berdasarkan kurikulum yang berlaku.
3.      Perencanaan pembelajaran harus memperhitungkan waktu yang tersedia.
4.      Perencanaan pembelajaran harus Merupakan urutan kegiatan belajar mengajar yang sistematis.
5.      Perencanaan pembelajaran harus dilengkapi dengan lembaran kerja.
6.      Perencanaan pembelajaran harus Bersifat fleksibel.
7.      Perencanaan pembelajaran berdasarkan pada pendekatan system yang mengutamakan keterpaduan antara tujuan, materi, kegiatan belajar dan evaluasi.
Prosedur perencanaan pembelajaran sebagai berikut:
1.      Penyusunan silabus, merupakan produk utama dari pengembanagan kurikulum sebagai suatu rencana tertulis yang harus memiliki keterkaitan dengan produk pengembangan kurikulum lainnya, yaitu proses pembelajaran. Pengembangan silabus diharapkan dapat memenuhi prinsip-prinsip sebagai berikut:
a.       Ilmiah, penetapan isi silabus harus memenuhi kebenaran ilmiah dan teruji kesahihannya.
b.      Memperhatikan perkembangan dan kebutuhan siswa dalam penetapan cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian isi atau materi dalam silabus.
c.       Sistematis, yaitu komponen-komponen yang terdapat dalam silabus merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan satu sama lain untuk mencapai kompetensi dasar yang ditetapkan.
d.      Konsisten, misalnya antara kompetensi yang diharapkan dicapai dengan penetapan pengalaman belajar yang harus dilakukan siswa.
e.       Adekuat, dalam arti bahwa dalam cakupan materi yang dipelajari siswa cukup memadai untuk menunjang tercapainya penguasaan suatu kompetensi.
2.      Penyusunan rencana atau satuan pembelajaran
a.       Identitas mata pelajaran.
b.      Kompetensi dasar dan indikator.
c.       Materi pokok.
d.      Strategi pembelajaran.
e.       Alat dan media.
f.       Penilaian dan tindak lanjut.

D.    Pembelajaran yang efektif
Faktor-faktor yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran sebagai berikut: isi pelajaran, bahan, strategi pembelajaran, perilaku guru, menstrukturkan pelajaran, lingkungan belajar, pebelajar, durasi pembelajaran, dan lokasi pembelajaran.
Agar terlaksananya pembelajaran yang efektif tidak hanya tergantung dari faktor-faktor diatas tapi juga pada karakteristik guru. Beberapa karakteristik guru yang efektif sebagai berikut: melakukan reviu harian, menyiapkan materi baru, melakukan praktik terbimbing, menyediakan balikan dan koreksi, melaksanakan praktik mandiri, dan reviu mingguan dan bulanan.




Daftar rujukan:
Anitah, sri. 2018. Strategi pembelajaran di SD. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.
AsyMas’udi. 2000.  Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Yogyakarta: PT Tiga Serangkai.




Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

model-model belajar dan rumpun model mengajar

pengelolaan kelas